Jurnal 19-12-2021

Mimpi itu adalah penggerak kehidupan saya.
Tanpa mimpi, rasanya saya sedang menjalani kehidupan yang membosankan. Jika ada orang yang mengartikannya sebagai ambisius, I don't mind about that because I do this at my own pace.

Mimpi yang saya taro bertahun - tahun dihati saya akhirnya diwujudkan Tuhan pada waktu yang tidak saya duga. God give me an opportunity to thick a mark for this dream, earlier than I thought before. Entah kenapa semuanya berjalan tanpa drama dan membuat hati sukacita, masih tidak menyangka akan hal ini. Saya ingin tuangkan ini di blog pribadi saya sebagai sebuah reminder, betapa Tuhan memelihara mimpi dan mewujudkannya.

Waktu itu, di awal pacaran dengan si kawan ini, aku pernah bercerita:

"Aku pengen punya rumah sebelum nikah" -- apa reaksi si kawan itu? mukanya seperti berkata, yea oke let see then, harga rumah udah ga make sense lagi sekarang.

Ya itu memang pembicaraan ngalur ngidul, tidak ada yang benar-benar diseriuskan. Namanya juga PENGEN!!

Saya itu punya kebiasaan untuk banyak dengar cerita orang dalam mengatur keuangannya. Jadi waktu aku masih junior associate, aku suka menghabiskan waktu makan siang bersama senior dan manager (LOL sebenarnya sih karena teman -teman sepantaran lebih suka makan di PP, saya lebih baik menghemat). Dalam percakapan makan siang, kerap kali kakak manajer kala itu suka bercerita betapa sulitnya mengatur keuangan setelah menikah apalagi punya anak.

Jadi dari situ saya ambil kesimpulan bahwa momen terbaik untuk menabung adalah ketika single. Jadi, dalam masa - masa single ini saya menabung sedemikian rupa. Tentunya, saya kembalikan dulu porsi Tuhan melalui persepuluhan dan porsi untuk mama (papa sepaket lah ya). Sisanya? Itulah yang saya cukupkan buat diri saya sendiri. Caranya banyak. Saya suka nebeng bokap waktu bokap belum pensiun, ya lumayan menghemat walaupun jadinya berangkat 05.20 dari rumah. Saya suka bawa bekal. Saya suka menggunakan busway atau kereta kalau disuruh ke klien atau KPP sehingga uang transport yang dikasih bisa ditabung.

Beruntungnya lagi, si kawan saya itu kalau disuruh nongkrong dimanapun bisa. Di warteg bisa, dipinggir jalan bisa, di restoran mahal bisa, dicafe juga bisa, atau nongkrong dirumah cuma buat nonton netflix juga bisa hahaha. Jadi tidak ada biaya signifikan dalam berpacaran. Ini adalah kerjasama yang baik dalam membantu saya menabung. Ga cuma itu, kita juga sepakat tidak ada hadiah mahal sebelum menikah. Hadiahkanlah sewajarnya. Jujur, aku bukan orang yang suka dibayarin ketika berpacaran sebab menurut saya, pacaran adalah biaya bersama yang harus ditanggung masing-masing pihak. 

Oia, saya perlu ceritakan bahwa saya bukan pecinta investasi dalam bentuk properti. Sebagai anak ekonomi, saya itu suka membuat skenario kasar di excel file pribadi dan menemukan bahwa investasi properti untuk umur yang masih merintis dan berjuang membangun keluarga itu bukanlah keputusan yang bijak. Sebab, prioritas utama untuk orang seumuran saya adalah cashflow, kita belum waktunya memikirkan capital gain sebab........... seberapa besar sih iddle money yang kita bisa punya?!

Singkat cerita, ada satu waktu saya ingin sekali membeli properti rumah setelah 5 tahun penguasaan diri. Entah kenapa hal itu bertepatan dengan seseorang menelpon mama dan menawarkan menjual rumahnya karena sedang butuh uang. Ini memang rumah tua tapi menurut saya harganya tergolong murah dibanding orang lain yang menawarkannya. Saya berhitung dan melakukan sejumlah riset. Kalau saya beli rumah second + renovasi besar-besaran ternyata saya bisa menghemat setidaknya Rp200juta untuk spek rumah yang sama (LT 120m persegi). Nilai penghematan Rp200juta itu sudah menggunakan budget termewah jika melakukan renovasi, yang artinya penghematan bisa jauh lebih besar.

Tapi keinginan itu saya pendam karena saya belum punya rencana untuk menikah. Saya takut, kalau saya beli, ini akan menjadi aset yang didiamkan bertahun-tahun atau disewakan. Sangat menguras cashflow

Karena mama dan papa mendorong sedemikian rupa untuk mengambil rumah tersebut, saya akhirnya mendiskusikan hal ini kepada si kawan. Meskipun kelihatan si kawan agak berberat hati tapi dia bilang "karena ini mimpi kamu dan belum tentu kita bisa dapat harga yang bagus seperti ini. beli lah, nanti kalau kita jadi ya kita tempatin" Wah respon itu bagaikan approval yang luar biasa. Seperti Tuhan memperlancar semua prosesnyaaaa, hingga bertemu dengan si Pemilik yang datang secara khusus dari Aceh. 

Si pemilik itu kemudian bercerita "Dik, dari seluruh aset yang saya punya. Sebenarnya rumah ini yang saya tidak mau jual dulu. Ternyata justru rumah ini yang lebih dulu diincer dibanding aset saya yang menarik lainnya. Rumah ini adalah rumah pertama saya yang saya beli dengan berjerih payah. Dari rumah itulah saya diberkati memiliki aset milyaran lainnya. Jadi saya nobatkan itu sebagai rumah berkat dan yang menempati pasti akan diberkati. Selamat ya Dik" --- Saya langsung "AMIN" dalam hati hahahah~

Aku terharu denger itu, seperti jalan Tuhan mengatakan ini sudah saya sediakan memang khusus untuk kamu. Diberkatilah. 

Oia perlu untuk dicatat bahwa saya menggunakan skema cash keras setelah menimbang bagaimana perhitungan bunga KPR dan segala opportunity cost yang ada. Nanti kalau ada waktu, mungkin saya akan berbagi pengalaman tips & trick membeli rumah dan melakukan renovasi. Ya tapi itu nanti saja.




Komentar

Postingan Populer