Hai Wanita, ini Tulisan Untukmu. pt 1

HAI! akhirnya aku menulis. senang.
Aku janji aku akan menulis untuk wanita, ya kan?
Aku ceritakan dulu mengapa pada akhirnya aku memutuskan menuliskan ini dan kearah mana tulisan ini sebenarnya akan bermuara. Enjoy trilogi-nya ya :) happy reading.
***

Tingkat akhir tiba, ah cepat sekali. Sudah dalam tahap skripsi, puji Tuhan. Teman - teman seperjuangan juga mengisi waktu liburnya dengan magang, ada juga yang sibuk lomba. Ah senang, kita hampir mencapai garis finish untuk dapat gelar Sarjana Ekonomi! :)
Aku bolak balik kampus untuk mengurus skripsi ini, bolak balik cari jurnal, ketemu dosen untuk minta jadi pembimbing. puji Tuhan, Tuhan baiknya luar biasa. Dia menuntun setiap prosesnya.

"Rin! Yaampun selamat ya, namanya ada di SIAKNG tanpa revisi." suatu hari saat berpapasan dikampus
"hahahah hadoh. Puji Tuhan banget loh itu. tapi masih ada tantangan pas nyusunnya. doain ya."
"tinggal pendamping wisuda dong ya. udah kan nih udah buka lembaran baru?"
"hahahahah bisa - bisa. pendamping hidup aja sekalian" aku cuap - cuap seperti biasa.
"parahsih, apa sih yang kurang dari lo. Udalah Rin, lo sama yang itu aja rin, dia kurang apa coba?"
"masih ye masih aja......gue buka lembaran skripsi dulu aja ya" kataku tidak mencoba untuk melanjutkan.

Lucu ya, tiba - tiba aku bisa digosipkan dengan berbagai macam orang; gak tau bermula dari mana.
Ini kreatif deh yang bikin gosip. Kadang - kadang aku menggerutu ke Sheila; aku harus gimana ya? Sheila dengan tenang menjawab 'enjoy! nikmati masa - masa ini ya. seru kok. kalau kamu sudah siap, ingat satu prinsip bahwa sebuah hubungan haruslah seperti besi menajamkan besi' 

kata - kata Sheila menenangkan. aku akhirnya mampu menertawakan gosipan - gosipan mereka. tertawa diatas ceng - cengan (?) atau apapun. ah tidak masalah, I keep moving forward; saya tidak suka mencari sensasi.

tapi aku heran, kemudian.
aku menghabiskan waktu dirumah untuk istirahat sejenak. setiap kali mama lihat aku, mama selalu tersenyum yang membuat aku insecure.
"ada yang senang tuh sama mu, kamu mau dijadiin calon mantu kayaknya"
"apaansih ma. jangan gitu dong...." kataku tidak selera membahasnya.
baik rumah dan kampus senang banget ya dengan topik 'pendamping hidup/teman hidup' atau yang senada dengan itu. 

aduh, ampun, saya tidak tertarik sungguh. not urgently needed.
menurutku: Tuhan juga akan menyediakan yang baik kok, asal tidak macam - macam aja hahahah.
polos ya, sederhana sekali pengertian itu. Lalu pengertian itu Tuhan lanjutkan menjadi sebuah pengertian - pengertian yang lebih besar dan yang lebih luas. Aku suka kalau sudah Tuhan yang menuliskan ceritanya.
***

Sore itu
"Duduk sini, Rio. Bapak mau bicara" papa menarik bangku dan duduk persis didepan Abang Rio; mama juga melakukan hal yang sama. Aku sedang duduk disamping Abang Rio saat itu; tiba - tiba lima anak Papa duduk bersama.

aku tau, ini sudah topik yang serius. 
"kenapa kalian bisa berantam? ada masalah apa? Kenapa kau bisa kerumah tanpa istrimu? Kemana dia memangnya?" Papa kali ini tegas.
"dirumah mamanya. yaudah gitulah" kata abangku tidak serius.
"kamu sudah jadi Bapak, Amang! Dewasalah. Kenapa? Coba ceritakan yang jelas."

abangku kemudian menceritakan panjang lebar, menurut gambaran ceritanya. aku sedih sekali mendengarnya. sedih sekali, teramat dalam. Perlahan - lahan meruntuhkan, membuat aku meneteskan air mata. aku, ternyata aku ikut terlibat dalam salah satu alasan mereka bertengkar. aku pucat, salah ku apa?

"si Rinda kan waktu itu berantem kan sama Bang David. itu didengar sama dia, terus dibicarakan yang tidak-tidak" kata abang melirik kepada ku.

mama sama papa mengarahkan pandangannya kearahku dan bang david.
"Ubah sifatmu Rinda! Bagaimana mau jadi istri yang baik? Jadi batu sandungankan sekarang!"

aku salah, aku tau tidak ada sikap yang dapat dibenarkan atas kejadian dua minggu silam.
seingatku, dua minggu lalu aku menyesal emosi bisa memuncak seperti itu dan aku berdoa. Tapi ternyata Tuhan tidak ingin aku hanya menyesal, Dia ingin aku berubah. Ubah sikap.
Inilah alasan pertama aku menuliskan ini.

kemudian, aku menyimak kembali percakapan mama dan papa ke Abang Rio.
hingga berbusa saat itu. rumit, bingung, tidak paham; 
papa kemudian bertanya "Masih inginkan Mama dan Papa berumur panjang? siapa yang tidak mau?" pertanyaan retoris.

"Dewasalah anak - anak Papa. Kalian sudah besar. Tindakan kalian dinilai; lihat efeknya bagaimana. Bijaksana dan Berhikmat! Gimana caranya? Rajin saat teduh, berdoa. Bijaksana itu diambil dari pengetahuan - pengetahuan yang ada di Alkitab. Itu dibaca, jangan malas. Kalian jadi Pemimpin. Anak perempuan Papa akan jadi penolong, lemah lembutlah"

Kejadian tempo hari cukup membuat aku tertegun, membuka kan aku kepada gambaran yang lebih luas mengenai Pasangan Hidup, arti pernikahan, arti membawa seseorang menjadi bagian didalam kehidupan kita. 

Aku tidak bisa lagi mengelak, mama dan papaku sudah sangat concern terhadap pasangan hidup anaknya, hingga Anggi menikah pastinya. Abangku selalu diminta untuk evaluasi calon-nya. 
Aku tidak bisa lagi mengelak, untuk akhirnya tergerak mendoakan pasangan hidupmu dari sekarang walaupun tidak ada nama yang bisa disebutkan secara spesifik. 
Aku tidak bisa lagi mengelak, seperti ada pesan dari Tuhan untuk mempersiapkan diri.....


Aku obrak abrik lagi buku itu,
Lady in Waiting
aku coba artikan dalam bahasa yang sederhana
buku itu sebenarnya menceritakan bagaimana seorang wanita sebaiknya menjadi yang terbaik bagi Tuhan selagi dalam masa penantian dia terhadap Pria Idamannya. Lucu ya? Tetapi, tidak ada salahnya belajar dari sekarang.

aku berharap, melalui tulisan ini semua wanita diberkati dan menjadi berkat.
jadilah berkat, tidak ada yang lebih indah dibanding hal itu.
jadilah penolong yang terbaik

(con't)



Komentar

Postingan Populer