When I met him Just when God said Yes

Sungguh, ini bukanlah cerita Cinderella mencari pangerannya.
Tapi aku ingin menceritakan salah satu cara Tuhan merajut kisah cinta manusia dibawah kolong langit ini, somehow unpredictable but sweet sih hahahaha.

Aku tidak pernah kenal dengan si Partner, sama sekali tidak. Tau namanya saja tidak.
Tidak ada suatu inner circle yang mempertemukan kita. Tidak ada satu lingkungan yang sama sebagai media kita berkenalan. Si Partner ini FHUI, sedangkan aku FEUI. Aku adalah si kuliah-rapat-pulang tidaklah mungkin bergaul dan melalang buana hingga ke FHUI.

Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk menepati janji ku kepada Tuhan bahwa aku akan menjadi pengurus PO FE ketika diterima di FE. Janji itu diingatkan kembali oleh seorang sahabat, Sheila, tanpa sengaja. Sudah lama janji itu terpendam, karena aku terlalu sibuk menjadi pejabat Himpunan Mahasiswa Akuntansi kala itu. Aku kemudian mencari informasi dari teman - temanku apakah aku bisa menjadi pengurus ditingkat akhir seperti ini tanpa memiliki sama sekali catatan pelayanan di POFE, kepanitiaan di acara POFE, dan sebagainya. Dan puji Tuhan, ternyata bisa bung! Mereka menerima ku :")

Keputusan ku sudah bulat. Dan aku akan menyibukkan semester terakhir ku dengan:
"Kuliah-skripsi-asdos-pengurusan PO dan ya pacaran (sekiranya begitu)"
Aku dulu masih sama si Masa Lalu. Tetapi ternyata hubungan itu kandas tepat sebelum aku memulai kepengurusan ku di PO FE. 
Tepat. Berbagai upaya pun tak mampu lagi digunakan untuk membuatnya kembali ke posisi seharusnya (re: balikan).

saat itu, Tuhan jelas mengatakan "Fokuskan dulu segala tanggung jawab mu, nanti Tuhan sediakan"
seperti itu yang selalu mengalir melalui setiap renungan harian, postingan timeline di Line (dari siapapun itu), dan tentunya sahabat - sahabat terdekat, papa & mama.
Aku tidak lagi mengkhawatirkan itu berlebihan. Semenjak saat itu, aku mulai fokus terhadap segala kegiatanku, kepengurusan ku, dan skripsi ku (maklum, dikejar target 3,5 tahun dari papa).

Perjumpaan Pertama dengan Si Partner
Aku bukan tipe wanita yang mudah tertarik sama seseorang, sejujurnya. 
Tingkat kecuekkan ku setaralah dengan para pria yang sulit memahami kode dari wanita. Ketika cewe - cewe bilang cowo itu ganteng, mungkin gue satu2nya orang yang akan bilang "ah biasa aja".

Suatu ketika, aku baru tau bahwa Fakultas Ekonomi (dikala itu) sedang dipasangkan dengan Fakultas Hukum (si makara merah). Saat itu, ada suatu program PTPM "Persiapan Training Pelayan Mimbar" (ya kira - kira itu deh akronimnya, lupa sist, banyak akronimnya soalnya....) yang diselenggarakan FE bekerja sama dengan FH. Tepatnya 8 Maret 2014.

Aku tau aku terlambat 15 menit dari yang seharusnya. Tergesa - gesa masuk ruangan, samar - samar memandang mana FE mana FH (karena jujur banyak yang ga ku kenal seantero PO, bahkan pengurus inti PO FH saja aku tidak tau hahahaha).
Saat aku duduk dibangku, aku melihat kearah pemusik. Disitulah pertama kalilah aku melihat si Partner itu. Dia lebih tinggi dari pada aku, kulitnya lebih hitam, memakai celana coklat dan kaos putih. Dia sedang bermain gitar sambil memberi arahan kepada pemain piano.

Gumam ku dalam hati:
"Siapa sih pria ini? Pasti deh dia PO yang cuma dateng - dateng aja" (seudzon banget ya gue ampun)

Tapi itulah penilaian pertama yang membuat dia mampu menarik perhatian aku saat itu.
Aku tidak tahu namanya, bahkan berjabat tangan dihari itu saja tidak ada sama sekali. Tetapi dia menarik, menurutku ya, membuat aku ingin mengetahui siapa pria itu dan bagaimana karakternya.
Jujur ini jarang sekali terjadi padaku, bahkan mungkin itu kali pertama. Seorang stranger mampu mengalihkan perhatianku; dibanding seluruh pria ganteng macam artis yang ada dimuka bumi ini.

Siapa si Pria itu?
dihari itu tidak ada kesempatan untuk berkenalan karena dia pun juga langsung cabut sebelum acara selesai. tapi memang hari itu aku sungguh penasaran siapa dia walaupun tidak sampai terbawa mimpi sih~
Sore hari, entah aku lupa persisnya, entah melalui grup atau mendengar percakapan orang lain. Aku akhirnya tau bahwa si pemain gitar itu namanya Stefan, ketua PO FH UI, anak Pak Mangapul Sagala yang bikin buku panduan untuk MC. 
Seketika itu aku langsung jiper sih karena dia berarti telah lebih lama melayani di PO, dan seudzonan gue yang tadi langsung buru - buru ku hapus. Aku semakin penasaran dengan kepribadian Stefan. Itu awal mula yang tidak terlupa.

Akhirnya Berkenalan
*oke ini membuat gue terpingkal - pingkal dengan kelakuan gue sendiri*
Jadi, untuk tau dia tipe orang seperti apa, maka aku menjadi stalker Stefan paling setia *HAHAHA*
Mulai dari facebook, instagram, dan twitter, semuanya aku bacain satu - satu. Bagaimana dia menulis caption, bagaimana dia merespon comments dan berbagai hal - hal kecil lainnya. Sampai keinginan aku terbesar adalah "cewenya siapa ya sekarang? oh atau dia lagi deket sama siapa ya sekarang?"

mungkin dari A sampai Z aku sudah tau tentang hal - hal umum dirinya. SMA mana, kegiatannya apa saja, hobi yang dia suka apa dan berbagai hal umum lain. Sederhana, tapi itu semakin membuat ku tertarik. Aku berterus terang saja.
Aku akui aku tertarik, tetapi batin ku belum sembuh benar dari kejadian masa lampau. Sehingga aku membatin, jikalau memang dikasih Tuhan untuk berpacaran lagi kelak, maka aku sudah harus menjadi wanita yang lebih baik. Lebih dewasa dan lebih berhikmat.

Maka ku putuskan untuk tidak terlalu memikirkan pria itu, tetapi berfokus dahulu memperbaiki diri.
Aku membaca Lady in Waiting, menyentuh sekali Amsal 31 (ya kamu bisa baca ulasanku di Blog ini juga) dan aku berfokus melupakan Si Masa Lalu, mengampuninya dan menutup segala sesuatu tentang si Masa Lalu. (ini penting sehingga hati ku menjadi seutuhnya netral). Proses itu menghabiskan waktu yang cukup panjang, karena seingat ku mengampuni seseorang adalah hal yang sulit, tetapi bisa diupayakan.

Beberapa kali aku menceritakan ini kepada sahabat - sahabatku.
Mereka tertawa, kadang mungkin menganggapnya tidak serius. Tapi terakhir ku dengar ide gila dari Sheila.
"Why not you pray for him? Mungkin ada maksud Tuhan akan hal ini pada mu?"
"what? Mendoakan? hahaha gila kali ya, kenal aja enggak. Dia kenal gue aja kaga kayaknya"
"ya, dicoba aja dulu. kan tidak salah juga"

Secara logika itu jelas sangat aneh. Mendoakan seorang pria yang hanya pernah dilihat mata sekali lalu pergi.
Sesekali bertemu di PMKJ pun hanya seperti angin, tak pernah menyapa.
Mendoakan itu membutuhkan sebuah komitmen dan iman yang kuat.....
Hari itu juga, aku browsing e-book "When God writes our love's story"

Malam itu, saat halaman terakhir selesai ku baca, aku mengatakan "Ya Tuhan aku juga mau mengalami kisah cinta se-unyu dan se-unpredictable ini!"

Dan aku memutuskan untuk:
Ya, aku akan setia mendoakan Stefan.

Dan kau tau apa yang ku doakan setiap malamnya?
Dan apa yang terjadi setelah doa itu?


Mungkin kau harus membaca kisahnya di postingan selanjutnya :)
HEHEHEH. Tunggu yaa :)

Komentar

Anonim mengatakan…
Aaaaahhhhhh nanggunggg bangeeett........:(((((
Gimana kakak doain abang ituuu?

Postingan Populer