When I met him Just when God said Yes (part 2)
Aku tidak ingat tanggal persisnya, tapi aku berupaya menyelipkan namanya didalam doa malam ku.
Mungkin tidak setiap hari, tapi ada beberapa kali....
Doaku sebenarnya sangat sederhana. Satu kalimat sederhana:
"Ya Tuhan, jikalau Engkau berkehendak, ijinkanlah kami mengenal satu sama lain"
jika kamu melakukan analisis terhadap kalimat itu, maka terdapat 100% unsur kepasrahan, kemustahilan, dan suatu keajaiban itu terjadi. Beberapa kali kalimat sederhana tersebut terlontar dalam doa malam ku, tanpa aku tau momentum apa yang akan digunakan Tuhan untuk merealisasikannya. Beberapa kali surut doa itu surut, kemudian muncul dan surut seperti ombak. Ah, yasudah, aku imani saja dulu....
Inikah Momentumnya?
Waktu itu aku sedang rapat dengan staff acara POFE terkait Paskah 2014 yang akan segera berlangsung. Disaat itu aku ingat sekali, ketua ku dengan super excited nya mengatakan:
"Eh! Nanti akan ada kesaksian pujian ya dari anak FH di acara Paskah FE. Nanti dari kita juga harus ada yang isi kesaksian pujian di FH ya. Ya kayak pertukaran gitu. Kayaknya kalau dari FH itu si Stefan deh bakal nyanyi disini. Gila suaranya bagus banget!"
Sontak, refleks, aku sangat senang sekali mendengar hal itu! (aduuuuh, mungkin ini jawaban doa kali ya~ HAHAHA pede gila). Karena saking senangnya, notifikasi langsung diarahkan ke 3 sahabat terdekat a.k.a GGJJSS!
R : "GENG! Stefan bakal tampil dipaskah ini! Nih ya Gab, gue tunjukkin entar mana orangnya!"
G : "Hahaha tau darimana lo, Rin? Oke siap! Ntar kasih tunjuk ya!"
J : "Iya bener Gab, kita ada tukeran kesaksian pujian kan sama FH. Tadi dirapat koordinator diomongin soalnya"
S : "Sabi sih Rin, ntar kenalan lah"
Ntar kenalan lah.......... iyalah! Aduh amin banget deh bisa kenalan.....
Menjelang hari paskah itu, doaku semakin meningkat (dasar emang ye manusia, liat momentum aje deh langsung), kali ini doa meminta kesempatan atau momentum supaya bisa kenalan #maksabener
Dan apa yang terjadi?
Aku sengaja duduk dua baris didepan Stefan dan Kawan - kawan, padahal sahabat - sahabatku duduknya jauh entah dimana pula. Aku berharap sih, dengan demikian ya aku pikir pasti akan ada momentum untuk kenalan..... atau tegur sapa karena pasti akan mengucapkan "Selamat Paskah ya!" #strategi #cerdas HAHAHA
Dan ya, benar saja, dimomentum seperti itu, dia dan teman - teman nya dengan ramah menyalami aku....................................................... dan tentunya begitu juga ke orang lain HAHAHA.
Kesaksian pujian yang dia bawakan kala itu adalah "In Christ Alone" Brian Littrel Version dan kalimat yang gue highlight, tidak lain tidak bukan, In Christ Alone I place My Trust!
Di acara paskah itu, berkenalan hanyalah impian.
Tapi setidaknya, In Christ Alone, I Place My Trust~ Sampai sini pun aku sudah senang.
Mungkin Bukan Dia
Beberapa bulan setelah paskah itu, tidak ada lagi momen yang mungkin bisa membuatku bertemu dengan si Pria itu. Toh, setelah itu, PTPM kedua sudah tidak lagi bersama fakultas hukum karena jadwalnya yang bentok. Pupus sudah. Rasanya juga tidak akan mungkinlah....
Dan menurut analisis ku, berdasarkan hasil investigasi ke kepoanku, mungkin dia sedang tidak memikirkan pasangan hidup dan sedang berfokus dengan jadwal kegiatannya yang sepadat jadwal commuter line (salah satunya adalah persiapan lomba ke Itali, waktu itu).
Ya, mungkin sudah jelas lah ya, mungkin bukan dia. Toh, aku juga sudah harus fokus dengan kelulusan ku. Waktunya juga akan tiba aku lulus dan melupakan segala kekonyolan ini....
Semakin tidak adanya kemungkinan membuatku mengubah doaku tentang dia. Kali ini aku tidak menuntut apapun kepada Tuhan, tidak meminta Tuhan untuk memberikan kesempatan berkenalan atau saling mengenal, kali ini..... mendoakan kesehariannya, seolah - olah aku sudah mengenal dia dari lama. Anehnya, doa itu mengalir begitu saja.....
"Tuhan, berkatilah setiap pekerjaan tangan Stefan dan buatlah berhasil, jadikanlah dia berkat, melalui apapun yang dia lakukan"
Doa itu mengalir dan diimani, ya Stefan harus menjadi berkat, terus menjadi berkat, sama seperti kesaksian pujiannya yang telah begitu memberkati aku saat itu.
Open a New Gate
"Udahlah, kasih kesempatan dulu lah sama si ini" kata salah satu rekan
"Hah? Lo ngomong apaansih?" gue kebingungan
Sahabat - sahabatku berkesimpulan bahwa terdapat beberapa orang (melalui chat WA dan LINE gue) yang sedang berusaha mendekati gue (ya ini sehabis dibilang berkali - kali juga sik). Pikiran polos gue saat itu hanyalah "iyaudahlah ini hanya chat biasa, kek nya emang buat seru - seruan aja"
Berulang kali pikiran polos itu berusaha dikoreksi oleh sahabat - sahabatku bahwa hal tersebut bukanlah untuk sekedar seru - seruan biasa, tapi ini tuh modus Rin...
Cobalah untuk dipertimbangkan salah satu dari mereka.
tidak mungkin dipaksakan? memang tidak bisa dipaksa untuk tertarik kan?
jadi aku tidak tergerak untuk mendoakan salah satu dari mereka. Entah.
Jadi, pintu baru yang ku buka adalah usaha ku untuk secepatnya lulus dari UI, mencari pekerjaan, merealisasikan impian - impian yang sudah beberapa kali ku tuangkan dalam doa. Ku fokuskan sedemikian rupa untuk tidak memikirkan si Pria itu, mengupayakan yang terbaik untuk skripsiku, menggumulkan cita - cita setelah lulus dan banyak hal lainnya.
Untuk benar - benar menuntaskannya, ku ceritakan si Pria ini kepada kedua orang tua ku. Seperti biasa, ku ditertawakan, dianggap tidak serius, tapi disatu sisi mereka terlihat setuju jika aku dengan pria ini.
"Udahlah tenang saja, Tuhan menyediakan. Kalau memang si Pria ini, nanti juga ada jalan. Kita doakan yang terbaik aja" kata Papa
Dan menurut analisis ku, berdasarkan hasil investigasi ke kepoanku, mungkin dia sedang tidak memikirkan pasangan hidup dan sedang berfokus dengan jadwal kegiatannya yang sepadat jadwal commuter line (salah satunya adalah persiapan lomba ke Itali, waktu itu).
Ya, mungkin sudah jelas lah ya, mungkin bukan dia. Toh, aku juga sudah harus fokus dengan kelulusan ku. Waktunya juga akan tiba aku lulus dan melupakan segala kekonyolan ini....
Semakin tidak adanya kemungkinan membuatku mengubah doaku tentang dia. Kali ini aku tidak menuntut apapun kepada Tuhan, tidak meminta Tuhan untuk memberikan kesempatan berkenalan atau saling mengenal, kali ini..... mendoakan kesehariannya, seolah - olah aku sudah mengenal dia dari lama. Anehnya, doa itu mengalir begitu saja.....
"Tuhan, berkatilah setiap pekerjaan tangan Stefan dan buatlah berhasil, jadikanlah dia berkat, melalui apapun yang dia lakukan"
Doa itu mengalir dan diimani, ya Stefan harus menjadi berkat, terus menjadi berkat, sama seperti kesaksian pujiannya yang telah begitu memberkati aku saat itu.
Open a New Gate
"Udahlah, kasih kesempatan dulu lah sama si ini" kata salah satu rekan
"Hah? Lo ngomong apaansih?" gue kebingungan
Sahabat - sahabatku berkesimpulan bahwa terdapat beberapa orang (melalui chat WA dan LINE gue) yang sedang berusaha mendekati gue (ya ini sehabis dibilang berkali - kali juga sik). Pikiran polos gue saat itu hanyalah "iyaudahlah ini hanya chat biasa, kek nya emang buat seru - seruan aja"
Berulang kali pikiran polos itu berusaha dikoreksi oleh sahabat - sahabatku bahwa hal tersebut bukanlah untuk sekedar seru - seruan biasa, tapi ini tuh modus Rin...
Cobalah untuk dipertimbangkan salah satu dari mereka.
tidak mungkin dipaksakan? memang tidak bisa dipaksa untuk tertarik kan?
jadi aku tidak tergerak untuk mendoakan salah satu dari mereka. Entah.
Jadi, pintu baru yang ku buka adalah usaha ku untuk secepatnya lulus dari UI, mencari pekerjaan, merealisasikan impian - impian yang sudah beberapa kali ku tuangkan dalam doa. Ku fokuskan sedemikian rupa untuk tidak memikirkan si Pria itu, mengupayakan yang terbaik untuk skripsiku, menggumulkan cita - cita setelah lulus dan banyak hal lainnya.
Untuk benar - benar menuntaskannya, ku ceritakan si Pria ini kepada kedua orang tua ku. Seperti biasa, ku ditertawakan, dianggap tidak serius, tapi disatu sisi mereka terlihat setuju jika aku dengan pria ini.
"Udahlah tenang saja, Tuhan menyediakan. Kalau memang si Pria ini, nanti juga ada jalan. Kita doakan yang terbaik aja" kata Papa
Komentar