Di sebuah titik yang tidak bertemu
"Kalau kamu dititik 7, aku cuma dititik 3. Lalu kenapa kita harus sama - sama di titik 5? Kenapa? Tidak bisakah kita diposisi kita masing - masing?", tanya nya padaku.
Pertanyaan itu membuatku berpikir panjang. Aku tidak tahu jawabannya. Tidak ada jawaban absolut benar dan salah atas pertanyaan itu. Semuanya itu hanya relatif terhadap kondisi dan ekspektasi. Aku baru tersadar, kita memang berbeda, hanya kepercayaan dan adat yang sama. Selebihnya, tidak ada satu titik pun yang sama, kita memang beda. Itu faktanya.
"Kita jalan saja masing - masing. Dititik kita masing - masing."
Akhirnya, kita tiba disebuah pembicaraan yang dahulu kita hindari. Lama sudah kita tahu atau mungkin kita rasa? Tapi enggan untuk kita bahas. Mungkin faktor usia atau keinginan semu lainnya, kita akhirnya terbuka dengan pilihan ini. Sesuatu yang tidak ingin kita pilih, namun mau tidak mau kita jalani.
Akhirnya, kita membahas semua ketidakmungkinan dalam hubungan ini. Memang tidak ada hubungan yang sempurna, aku tahu. Karena yang terlibat didalamnya, aku dan kamu, juga tidak sempurna. Tidak apa - apa dibahas, aku juga tidak tersinggung. Semua demi kebaikan kita masing - masing, aku paham.
Kita terlalu beda dalam sudut pandang, terlalu beda dalam interpretasi tentang waktu. Memang benar mungkin kata mu, aku terburu - buru berlari dan entah saja kamu masih disana juga. Aku tidak pernah mengatakan aku lebih baik daripada kamu, atau sebaliknya, karena aku anggap kita adalah lawan yang sepadan. Lawan jenis yang sepadan.
Akan bersama atau tidak, aku juga tidak tau. Yang terpenting sekarang, melihat segala kemungkinan dari segala keterbatasan pemahaman kita tentang satu dengan yang lain. Aku berharap, kita bisa tumbuh dewasa bersama atau menikmati ritme kehidupan bersama. Jikalau pun tidak bisa, tidak apa. Kita sudah belajar lebih banyak, aku yakin itu.
Dan, Tuhan pasti belum selesai menulis saat ini...
Komentar