Harus aku akui, 2018 berlalu lebih cepat dibanding biasanya.
Entah aku yang terlena dengan pekerjaan dan suatu hal yang sedang ku persiapkan, atau aku saja yang tak menyadari bahwa kecepatan rotasi dan revolusi bumi ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Ya kan siapa tau.

Tulisan ini tentang penyertaan Tuhan sepanjang tahun 2018.

Tahun ini merupakan tahun yang luar biasa; menikmati setiap kebahagian dan kesedihan, segala perjuangan maupun kegagalan, dan tentang ungkapan syukur tiada henti kepada Tuhan.

***

Januari 2018.
Awal tahun 2018, Pamanku (abang dari mama ku) meninggal dunia. Sudah lama sakitnya, memburuk sejak akhir tahun 2017. Kami hanya berencana singgah di Pematang Siantar sebentar saja, niatnya berlibur di Danau Toba. Tapi, nyatanya 3 hari kami habiskan di kampung halaman mama. Pupus sudah keinginan untuk berlibur di Parapat. Tapi ya tak apa, 3 hari merasakan Kolang, Sibolga punya kesan tersendiri juga.

Kami saat itu di Pematang Siantar. Ke Kolang, Sibolga butuh sekitar 7 s.d 8 jam. Diperhadapkan dengan kebingungan saat itu; karena Papa sudah lama tidak mengendarai di Lintas Sumatera, tapi kalaupun naik pesawat, harus ke Kualanamu dulu. Akhirnya kita putuskan untuk menggunakan mobil pribadi milik Bapa Tua di Pematang Siantar. Bersyukur, Tuhan melindungi perjalanan kita hingga bisa tiba di Kolang dengan selamat walaupun sempat terhambat karena adanya longsor dijalan dan beberapa truk tak bisa bergerak karena lumpurnya.

Dan aku bersyukur.

Februari 2018 s.d Mei 2018
Sebenarnya sudah muai dari Januari 2018 kami disibukkan dengan pekerjaan yang super- duper overloaded. Ini siklus dari Kantor Akuntan Publik yang tidak bisa dihindari. Peak Season. Tahun lalu, ada sekitar 2-3 kali aku tidak pulang ke rumah. Tahun ini, aku berharap angka tersebut dapat ditekan. Nyata nya? Justru menjadi lebih banyak. Dibulan ini tidak ada waktu untuk mengeluh, menangis pun dirasa kurang tepat karena membuang banyak waktu dan emosi.

Tapi aku bersyukur. Aku bersyukur punya mama dan papa yang super suportif. Mereka bukan marah tetapi selalu standby jika perlu dijemput dari kantor jam 4 pagi, atau sekedar mengantarkan baju jika memang benar - benar tidak pulang.

Tentu saja juga bersyukur dengan kehadiran pacar yang super pengertian kalau chat tidak dibaca, chat sedikit dibalas, chat hanya seperti koran atau chat yang kadang isinya cuma curhatan cape lelah dan mau resign hahaha. Waktu - waktu pacaran yang diganti dengan "aku istirahat dirumah aja ya"; atau "kita cari tempat yang deket rumah aku aja gimana?". Tapi tenang, aku ini selalu berusaha bales chat dengan baik~

Mei 2018.
Sedikit bisa bernafas dari pekerjaan yang kejar kebut dalam semalam itu, seperti membangun candi rasanya. Awal bulan, aku dan teman - teman kantor memutuskan berlibur ke Jogja dan naik Gunung Prau.

Sebenarnya niatnya cuma mau naik Gunung dan ikut ritual Waisak di Borobudur, Lantern Festival. Aku memang punya impian bisa mendaki gunung, ya yang penting bukan Gunung Sahari~
Waktu itu aku cuma ijin "mau pergi ke Jogja", tanpa embel - embel akan mendaki gunung karena takut ga diijinin, apalagi dari semua rombongan yang pergi tidak ada satupun yang pernah mendaki gunung.

Seminggu penuh aku berolahraga untuk mempersiapkan badan; kata orang - orang penting. Ditengah masih lembur, aku paksakan berolahraga. Dan benar saja, sangat berguna saat mendaki; nafas lebih teratur dan suhu badan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan. Saat itu aku sangat berharap bisa mendapatkan sunrise; sehingga kami mendaki pukul 1 pagi, start dari Dieng. Kami ber-enam saat itu ditambah seorang pemandu. Perjalanan kesana berkabut, jalanan hampir tidak terlihat. Jarak pandang hanya 1 meter didepan. Hampir aku berpikir, mungkin ini kualat karena tak ada doa orang tua menyertai. Kan mereka tidak tau.

Cuaca berkabut, angin sangat kencang, suhu udara sangat dingin, aku tidak bisa merasakan ujung jariku - jariku, tidak mempan semua jaket, penutup kepala, maupun sarung tangan yang kami kenakan. Percuma. Pukul 02.30 pagi saat itu, ditengah perjalanan kami ke puncak, salah satu rekan kami mulai menunjukkan gejala - gejala hipotemia. Satu tapak ia berhenti, nafasnya tersengal - sengal. Tangannya dingin, badannya dingin namun keringat tiada habis berkucuran. Sudah tidak beres ini, tapi kami sudah ditengah jalan. Angin semakin kencang, suara gulungannya terdengar keras, awan menutup perjalanan kami melihat puncak. Tak ada bintang, tak ada bulan, tertutup semua. Tak lama hujan mulai turun.

Aku rasanya sudah mau putus asa. Apa iya kita akan turun gunung bahkan belum mencapai puncaknya? Tapi kenapa mesti ke puncaknya kalau ini pun pertanda mendung? Sebentar lagi subuh tiba, dan teman - teman sudah mulai terlihat lelah. Aku berhenti dari jalan ku yang cepat - cepat, berusaha mengikuti kecepatan mereka. Sudahlah, aku hanya berdoa "Tuhan izinkan kami mencapai puncak dan bisa melihat sunrise, semua cerah"

04.30 pagi, sampailah kita ke Puncak Gunung Prau. Dan tau apa? Pemandu wisatanya bilang "Ini cerah, cerah banget. kita dapat sunrisenya, jarang - jarang bisa sebagus ini. beruntung kalian" Dan betapa aku sangat terharu menyaksikannya~ Tuhan baik banget!


Dan aku bersyukur.

Juni - Juli 2018.
Bulan - bulan ini sebenarnya bulan pekerjaan padat - tak terlalu padat. Tapi cukup menyita waktu. Aku bersyukur punya teman - teman yang saling mengingatkan untuk tetap fokus ke cita - cita; sembari juga melakukan perjalanan klien visit di Bintan maupun Batam. Setiap bulan Juli, kantor selalu disibukkan dengan Performance Evaluation untuk keperluan kenaikan level dan jabatan~

Puji Tuhan, hasilnya bagus. Thanks God!

Agustus 2018.
Masa bertambah tua. Tapi, ini salah satu bulan yang di nanti. Aku sudah berencana ingin ke Toraja sejak Mei yang lalu. Dari paket open trip yang aku baca, trip ini akan singgah sebentar di Makassar lalu pada hari terakhir akan bermain di Bima. Aku dan Gebi menggunakan Open Trip, super random, tapi ya dicoba saja, mumpung masih muda. 

Waktu itu sih aku belum tau kalau jarak Makassar - Toraja - Bima itu.......... JAUH BANGET. Mungkin perjalanan ini mendapatkan penghargaan "terlama" untuk kategori perjalanan darat :") walaupun mirip sih dengan perjalanan Medan - Kolang, Sibolga.

Toraja itu begitu khas dengan upacara kematian. Dulu waktu mengunjungi anjungan Toraja di TMII, aku selalu penasaran dengan kuburan gantung dan kuburan goa yang katanya khas di Toraja. Belum lagi proses upacara kematian yang memotong serdadu kerbau dan babi. Gak kebayang mahalnya~ apalagi Kerbau Albino yang bisa seharga Fortuner :"

Satu hal yang menjadi poin penting kalau aku jalan - jalan adalah "harus paham budaya / adat disana". Suku yang kaya akan adat sebenarnya sangat menarik untuk ditelusuri. Tapi gak kebayang kalau semuanya harus diikuti, riweh banget ga sih~

Aku bersyukur perjalanan ini disertai. Karena........ :
1. Ini open trip, yang gue kenal diawal adalah temen kuliah gue, Gabby. Untungnya pas kita ketemu di Makassar, semua peserta adalah perempuan yang hobi traveling. Super cool.
2. Kita tau ada anggota open trip ini yang bisa 'melihat' yang seharusnya ga diliat. Walaupun dijalan ada momen - momen yang agak creepy, yaitu pas dia kasih salam ke kiri kanan padahal.... men, kita lagi di jalan dan itu gelap.
3. Bima adalah tempat wisata yang sangat indah, yaampun Nusa Dua Bali lewat deh. Jadwal dihari terakhir itu adalah snorkeling. Tapi tak disangka, ombaknya lebih besar dari biasanya (ini pengakuan yang bawa perahu loh yah~). Dan mereka tidak prediksikan itu. Aku sudah bersiap - siap jikalau kapal ini terbalik atau tenggelam (saat itu aku benar - benar panik, karena ombak itu bisa lebih tinggi dibanding perahu kita, dan alhasil air saat itu juga masuk. banyak) Puji Tuhan tidak jadi tenggelam dan bisa ber-snorkeling super seru! ini lautnya indah banget~

Foto di toraja? liat aja IG aku hahahah~

September - December 2018.
Kerjaan seperti biasa, lembur. Beberapa project jalan dan selesai. Sesungguhnya aku suka sekali dengan ritme kerja dikantor ku. Kerjaan yang tidak membosankan, aku masih bermain dan belajar juga.

Dibulan ini, akhirnya aku mengunjungi Semarang~ hahaha. Dari seluruh bagian Jawa, kota Semarang itu memang belum tersentuh oleh ku selama 24 tahun hahaha. Dibulan ini juga aku banyak melakukan Business Trip, Batam untuk pulang pergi. Lelah.

Tapi untungnya, ada jalan - jalan bersama teman - teman kantor ke Padang! Super random sih ke Padang, tapi memang yaaaa... napsu makan saya meningkat 2x lipat selama di Padang hahahah.


Dibulan ini aku bersyukur, karena sejujurnya setelah berita jatuhnya Lion Air.. aku ingin membatasi mobilisasi dengan pesawat. Tapi kenyataan malah sebaliknya. Dan Tuhan menyertai.

2018 ini tahun yang berwarna. Ada tangis, ada tawa, ada kegagalan, ada sukacita juga.

Aku suka. Memang, aku selalu suka kalau Tuhan yang menuliskan cerita hidupku <3






Komentar

Postingan Populer