Elo kapan sih, Rin?

Banyak chat whatsApp yang tenggelam akhir - akhir ini. Maklum, grup kerja dan chat klien saja yang menjadi prioritas apalagi dibulan - bulan terhuru hara untuk perpajakan Indonesia.

Akhirnya punya waktu juga untuk buka chat - chat yang tenggelam ditengah - tengah....
Disuatu percakapan yang saya lupa untuk membalasnya, ada sebuah kalimat begini:

"Rin, gue denger ... beberapa sahabat lo bakal mengakhiri masa lajang nya (maksudnya menikah) dalam tahun ini. Hahaha gausah galau kali, santai aja"

dalam percakapan yang lain
"Buset ini pada maraton semua yah... Lo kapan Rin?" - karena hanya gue satu - satunya yang belum mengatakan rencana pernikahan atau apapun di grup itu.

Sejujurnya sih, i am fine with all that questions tanpa ada perasaan galau.

Tiap pertanyaan yang mengarah kesana, biasanya gue akan jawab "belum kepikiran, belum ada rencana"

Tapi yang akan menjadi masalah ketika orang mulai push their own expectation on me. 

"tahunnya aja dulu, target lo emang kapan?"
"ngapain deh lama - lama?"
"lah masa sih ga ada rencana?"
"jangan yang dipikirin kerja mulu Rin, buset keburu tua lo. apasih yang lo cari?"

Ketika segelintir pertanyaan turunan itu sudah mulai terdengar, gue memilih tidak menjawab. Apalagi jika itu datang dari orang - orang yang sekedar kenal, sekedar ingin tau, sekedar ingin memperlihatkan rasa pedulinya. Jika mereka adalah orang terdekat dan melihat lebih dekat, mereka akan memahami bahwa jawaban itu adalah sebuah keputusan yang telah dipikirkan sebelumnya.

Ya memang benar. Ketika gue memutuskan untuk merencanakan sesuatu, maka gue sudah memikirkannya. Berlaku pula sebaliknya, walaupun hanya sekilas dipikirkannya hahaha.

Jawaban yang gue berikan memang tidak akan pernah cukup untuk menuntaskan keinginan atau ekspektasi dari yang bertanya. Gue paham. Tapi bagaimanapun, substansinya tetaplah sebuah jawaban. Jadi, tolong terima saja. Hahaha.


Komentar

Postingan Populer