Perjuangan melawan Covid
Saya tidak pernah menyangka terkena Covid sebanyak dua kali dalam kurun waktu 3 bulan. Dulu saya pikir, setelah terjangkit Covid, maka tubuh akan membentuk antibodi. Sehingga, saat itu saya mengira, jikalaupun terkena lagi, ah paling tidak, ... tidak akan lebih buruk. Ternyata, sebaliknya.
September 2020, 5 dari 8 orang dirumah terjangkit Covid dengan CT value rata - rata di 36.3. Penyebaran ini dimulai ketika Anggi, kontak erat dengan pasiennya yang tanpa gejala. Seketika itu, rumah menjadi sangat takut..... seluruh persediaan dari mulai Vitamin C, Madu, Jahe, Propelix, Vitamin E, Oxymeter, Nasal Spray, maupun Lin Hua dipasok untuk kebutuhan dirumah.
Saat itu memang kami semua tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Bisa dikatakan tanpa gejala.
Februari 2020.
Dimulai dari Abang Berto merasakan demam yang tinggi hingga suhuh 38-39. Kala itu kami mengira, ini adalah gejala typus.
Tak lama berselang, istrinya pun ikut demam tinggi. Kala itu, mereka juga masih mengira bahwa ini gejala typus. Namun memang, mereka sudah menggunakan masker sejak merasa badan tidak enak.
Saat itu, dibenakku juga ada pertentangan:
"Emang typus menular? apa ini Covid ya?"
"Ah ga mungkin Covid, kan baru kelar"
Tepat hari Sabtu, 6 Feb 2021, anaknya pun demam hingga mencapai suhu 39-40. Ini sudah tidak beres. Tapi kita tidak kunjung berani ke dokter, karena takut kondisi pandemi yang sedang meningkat tajam. Hari minggu pagi, abang dan istrinya sudah terlihat kekurangan banyak cairan, sehingga aku mengantar mereka ke Siloam Kebun Jeruk.
Setelah segala rangkaian pemeriksaan, diagnosa awal dokter kepada abang adalah DBD karena trombositnya turun, sedangkan istrinya adalah infeksi pencernaan. Namun, diagnosa ini sambil menunggu hasil PCR.
dalam hati, "wah ini sudah tidak beres. ini pasti Covid"
Kami pulang dari rumah sakit, dan disinilah perjuangan itu dimulai...
Senin 08 Feb 2021 - RS menyatakan bahwa hasil PCR abang positif dengan CT value 12, sedangkan istrinya positif dengan CT value 14. Mereka akhirnya mengisolasikan diri.
Selasa 09 Feb 2021 pagi - Anak abang berto demam lagi mencapai suhu 39. Dia tidak punya napsu makan sama sekali. Hal yang menyedihkan, mama papa nya tidak bisa mendampingi dikala itu. Jadi, Mba nya, aku, dan mama sesekali yang menjaga...Rumah sudah siaga 1, kami semua sudah menggunakan masker.
Selasa 09 Feb 2021 siang - saya melakukan test antigen. Hasilnya positif. Kala itu saya tidak merasakan apapun karena saya sedang mengkonsumsi antibiotik dan obat penghilang nyeri untuk gusi yang membengkak. Anugerah yang tersembunyi, antibiotik ini membuat saya tidak demam hingga suhu tinggi seperti itu...
Selasa 09 Feb 2021 sore - Ade, sepulang dari kerjaannya di RS, demam hingga suhu 38-39.
Selasa 09 Feb 2021 malam - badan saya mulai drop, namun karena kekhawatiran yang berlebih, saya hanya tidur 1-2 jam.
Rabu 10 Feb 2021 siang - Ade minta diantar untuk swab antigen dan hasilnya juga positif. Disini badan saya sudah mulai drop, kepala pusing, nyeri dada, nyeri tulang, dan ruam pada kulit.
Rabu 10 Feb 2021 malam - Ade diinfus di UGD RS dekat rumah dan diberikan obat Avigan, abang dan istrinya masih sangat lemas dan isolasi dikamar nya. Aku menemani keponakan tidur karena ia sulit sekali tidur tanpa orang tuanya. Ditengah pekerjaan yang masih menumpuk untuk persiapan rapat dengan DJP saat itu dan tidak stabilnya kondisi rumah, membuat pikiran, mental, dan juga kesehatan fisik saya menjadi lebih buruk.
Kamis 11 Feb 2021 - kami sekeluarga Swab. Saya tidur seharian.
Kamis 11 Feb 2021 sore - Mama demam tinggi dan saturasi tidak stabil hingga turun terus ke 90. Keadaan saat itu membuat mental saya makin drop, takut, cemas, dan langsung membawa mama ke RSPI. Tidak ada tindakan yang signifikan karena hasil PCR belum keluar. Saya minta rawat inap saat itu, tapi kamar penuh. Saya minta dilakukan CT thorax untuk mama, dan puji Tuhan hasilnya bagus.
Jumat 12 Feb 2021 - Saya tidur seharian. Saya tidak sanggup dengan nyeri tulang disekujur tubuh, nyeri dada, ruam pada kulit yang menjadi-jadi, penciuman yang sudah mulai hilang, pusing yang berkepanjangan, nafas yang menjadi lebih pendek, saturasi yang naik turun dan suhu badan yang lebih tinggi dibanding biasanya. Napsu makan saya turun drastis, saya mual, saya tidak punya nafsu makan.
Sabtu 13 Feb 2021 - Saya dalam keadaan amnosmia total. Saturasi naik turun 88, 93, 95 dan beranjak ke 98. Pusing masih terus saya rasakan, napas pendek, nyeri dada, ruam pada kulit dan nyeri tulang.
Saya tidak memeriksakan diri ke dokter. Tidak juga mendapat obat apapun kecuali obat yang saya terima dari dokter gigi pada tanggal 4 Februari 2021. Yang saya lakukan adalah mengkonsumsi Vitamin D3 5000mg, Vitamin E 400IU, Vitamin C 1000mg+ Zinc 2mg, Jahe, Madu, obat antivirus yang tersisa pada saat pengobatan September 2020 lalu.
*to be continued*
Komentar