Mengimani dalam Keadaan Sulit
Senin pagi minggu lalu, saya berlari 10k untuk menyegarkan pikiran. Saya memandang ke arah sinar matahari pagi yang baru saja muncul. Terimakasih telah menghangatkan badan saya, lari saya bisa menjadi semakin kencang.
Pagi itu perasaan saya campur aduk sekali sebab saya sedang menanti kesembuhan untuk orang tua dari sahabat terdekat saya. Terlintas lagu yang mengiringi langkah kaki saya pagi itu:
"Semusim berlalu,
Namun Kau s'lalu p'liharaku
Kasih dan setia-Mu
Tak pernah layu di hidupku
Lebih luas dari samud'ra
Kebaikan-Mu Bapa takkan habis di hidupku
Lebih tinggi dari cakrawala
Tak terbatas kasih-Mu
Sungguh kubersyukur"
Kaki saya semakin cepat terkayuh, tapi air mata saya mengalir.
"Mengapa ini samar sekali diimani dikondisi seperti ini?"
Dan kembali lagi, saya bertanya "kenapa sulit sekali mengimani itu di kondisi seperti ini?".
Sahabat saya baru saja kehilangan om dan tantenya akibat Covid pertengahan bulan lalu. Hari ini, Tuhan memanggil mama nya. Rasanya tertusuk sekali, rasanya seperti sia-sia doa kita, rasanya seperti kehilangan pengharapan. Kok kenapa ini jawabannya?
Hari ini....
Saya tidak bisa mengatakan "turut berduka cita", karena energi saya habis untuk mencari jawaban atas pertanyaan - pertanyaan di atas.
Saya tidak bisa mengatakan "tetap kuat ya", karena saya tidak kuat
Saya tidak bisa mengatakan "tetap berpengharapan ya", karena saya sedang tidak punya harapan
Rasanya capek sekali ya, Tuhan... hingga tidak bisa lagi aku menghibur temanku. Banyak dukacita silih berganti, banyak doa yang sudah kami panjatkan memohon kesembuhan dan pemulihan..
Kapan kondisi ini berakhir? Kapan kami bisa hidup tanpa Covid?
Komentar