Jurnal 06-12-2021
Akhir - akhir ini pembicaraan menjadi semakin intens tentang pernikahan. Sesuatu yang kalau bisa saya hindari dulu sementara waktu. Bukan berarti saya tidak ingin menikah, tapi saya ingin lebih memahami esensi-nya secara personal.
Saya tidak ingin menikah hanya karena orang-orang seumur saya sudah menikah.
Saya tidak ingin menikah hanya karena umur saya udah dikatakan "tua"untuk menikah. Who said that?
Saya tidak ingin menikah hanya karena didesak oleh kerabat atau orang tua.
Tapi saya juga tidak ingin tidak menikah hanya karena setiap checklist saya belum tercapai.
Saya memahami menikah itu adalah membawa orang lain masuk kedalam kehidupan pribadi dan kehidupan pribadi menjadi bagian untuk kehidupan orang lain. Mencampur dua hal ini tidak akan pernah mudah. Setidaknya itu yang saya lihat secara dekat selama 7 tahun terakhir. Tahun pertama di pernikahan mereka, saya melihat seperti baik-baik saja, setelah itu kok seperti sedang bermain sinetron FTV, cape ber-drama nya tapi digaji pun tidak. Kan saya jadi takut.
Hari dimana seseorang mencetuskan ide untuk berkeluarga menjadi sebuah dentuman keras buat kepala saya. Seluruh bayang-bayang drama pernikahan orang terdekat yang saya lihat seperti diputar kembali dikepala saya. Saya panik.
Saya akhirnya menarik diri. Saya katakan saya tidak siap dan tidak bisa mengambil keputusan. Silahkan jika ingin menunggu, tapi saya tidak bisa memberikan jaminan apapun.
Katanya, "baiklah keputusannya akhir bulan ini... jika tidak maka tidak"
Komentar