The moment I found the reason

I finally found the reason why I should tie a knot with someone, finally, after one or more years--

Beberapa tahun atau bulan yang lalu, jika ada seseorang yang bertanya kepada saya (secara sengaja, atau hanya untuk berbasa-basi), kapan saya menikah? Saya tidak pernah serius menanggapinya dan hanya mengatakan "ya hari sabtu-lah". Sebuah template jawaban yang... I thought people would definitely stop making a follow up question.

Jika boleh berkata jujur, sebenarnya, saat itu saya belum menemukan alasan (khusus) mengapa saya harus menikah. Saya masih berjuang mengatasi krisis kepercayaan terhadap lembaga pernikahan. Saya juga masih berjuang menghadapi krisis identitas diri. 

Sebenarnya keluarga saya baik-baik saja. Tetapi, saya ingat betul beberapa orang datang kerumah hanya untuk berkonsultasi kepada mama dan papa tentang prahara rumah tangga mereka. Bayangkan, bagaimana mungkin mereka yang baru mengucapkan janji di hadapan Allah.... 2 tahun kemudian datang dan mengatakan "saya ingin bercerai?!" Apa yang ada dipikiran saya ketika... orang yang mengumbar kemesraan disosial media, ternyata dikehidupan nyata menjelek-jelekkan pasangannya didalam keluarganya, dihadapan bos-nya? Saya seperti berhadapan dengan dunia yang palsu.

Masa itu tidak mudah, seperti mendaki kemudian terperosok, seperti bangkit tapi jatuh lagi. Saya (dengan sadar) terus menerus melukai perasaan dia. Ini implikasi dari tidak kunjung datang jawaban atas pertanyaan itu. Seribu kali dia berusaha meyakinkan bahwa pernikahan itu akan baik-baik saja. Bahwa ia menerima segala kekurangan saya. Bahwa dia mendukung segala cita-cita saya. Dengan tegas ia meyakinkan saya kalau saya mampu menjadi seorang istri, seorang ibu, seorang wanita berkarir, seorang professional, dan seorang partner hidup yang baik disaat yang bersamaan. Semua itu, terasa berlalu hanya karena saya tidak memiliki jawaban itu.

Alkitab memang mempunyai dua slogan terbaik sebagai landasan pernikahan:
"Tidak baik manusia hanya seorang diri saja~"  atau "Beranak cuculah dan bertambah banyaklah~" 

Tetapi apa yang saya dapat dari ayat ini, belum begitu membukakan hal yang sepatutnya saya dengar untuk meyakinkan saya menikah. Sebab, saya cukup yakin dengan lingkungan saat ini, banyak distraksi yang bisa saya lakukan, banyak hal-hal yang ingin saya capai. Saya tidak merasa sepi-sepi amat?

Akhirnya, saya memutuskan untuk membaca sebuah buku. Dalam sebuah paragraf pendek buku ini tertulis "Kita membutuhkan setidaknya satu orang untuk menjadi saksi kehidupan kita. Seseorang yang melihat kita mengalami pertumbuhan, perubahan karakter dari waktu ke waktu." 

Kalimat ini sederhana dan sejenak membuat saya berhenti. Saya merenung, jika kehidupan saya adalah setitik dari dunia ini, adalah menyedihkan jika hidup saya nanti berlalu tanpa disaksikan. 

Stefan telah, setidaknya, 7 tahun memperhatikan kehidupan saya. Pernah dia mengatakan "I am happy, you are so much better than years ago. I knew you were struggling, but you looked so fine". Saya itu telalu payah untuk mengelola cara komunikasi saya, terlalu straight-forward tanpa melihat keadaan. Stefan bilang, bisa tidak jika kamu belajar menahan-berpikir-mengambil jeda-baru mengungkapkan emosi? Saya ingat, bertahun-tahun dia mengingatkan hal yang sama :") Kemudian kalimat itu terungkap menjadi sebuah apresiasi sederhana yang paling berharga.  He paid attention to my effort, I was very grateful. 

Saya dapat membayangkan betapa berbahagianya saya jika hidup saya bisa  disaksikan, dan saya bisa menyaksikan kehidupan seseorang. Saya bisa melihat pertumbuhan - pertumbuhan kecil dari kehidupan dia, ikut merayakan bersama - sama, ikut menangisi hal yang perlu ditangisi, menertawakan hal-hal konyol bersama. Dan terakhir, saya ingin ada yang benar-benar menangisi kematian saya nantinya.

Komentar

Postingan Populer