Jurnal 06-08-2022: Setengah Duniaku Runtuh

Jumat pukul 02.00, aku terbangun dari tidur. Karena aku lupa memastikan apakah Stefan sudah sampai rumah atau belum, akhirnya aku cek HP. Ada Voice Note 17 detik dari Stefan dengan pesan "Bie, dengerin VN aku" jam 22.30. Gak biasanya...

Dalam VN nya, Stefan bilang "tolong doain Papa ya bie... papa kena serangan jantung tadi jam 9 malam di STT Trinity Parapat. Sekarang lagi menuju ke Medan"

Seketika itu, hatiku berdebar-debar. Takut. Bingung. Doaku juga mulai semberawut.. karena pikiranku menjadi rumit. 'Kok bisa? Seinget aku, Amang ga punya riwayat jantung. Diabetes ada, tapi selalu dipantau ketat oleh Inang. Apa Amang kecapean ya? Kenapa aku deg-degan ya? Waktu itu Sepupu ku ada yang serangan jantung tapi aku tidak sepanik ini. Toh pasti segera ditangani, bisalah. Aduh tapi kan Amang ini kan udah berumur, aduh jauh banget Parapat-Medan'
kira-kira itu lah yang dipikiranku ketika berdoa.

Aku tidak bisa melanjutkan tidur...gelisah sekali rasanya. Akhirnya, aku ketiduran jam 04.00. Aku bermimpi... Alex dan Gabby datang dan ngucapin 'turut berduka ya Rinda, Stefan'. Lalu aku langsung terbangun "Ah ga mungkin". Pasti cuma mimpi.

Pagi hari, aku cuma bertanya (karena takut menganggu pekerjaan Stefan di weekend): "Papa dalam keadaan sadar atau gimana bie?", Stefan bilang "Sadar tapi papa tidur". Aku pikir, syukurlah... mungkin sudah stabil. Sabtu itu, aku melakukan aktivitas seperti biasa tapi agak sedikit tidak fokus.

Jam 13.30, aku sudah di gereja untuk latihan ibadah minggu. Baru saja duduk, Stefan bilang "doakan papa ya bie, papa sedang kritis... saat ini sedang di pompa jantung". Aku cuma bisa membalas "nanti aku ke tempat kamu, kita berdoa bersama yaa". Tapi...hatiku berdebar-debar sekali, takut, bingung... aku cuma berdoa meminta belas kasihan Tuhan, seraya bernegosiasi "Tuhan, tolong kasih kesempatan. Kalau Amang lewati masa ini, maka aku siap memajukan tanggal pernikahan aku."

Latihan ku menjadi tidak fokus. Sampai dipukul 14.35, Stefan melakukan video call. (ada apa ini, apakah urgent? tidak biasanya dia nelpon...). Tangan aku langsung mengangkat video call itu... Tepan tidak berbicara, dia menangis. Video itu berlangsung selama 24 detik... aku langsung tanya "Kenapa?"

Dan dibalas "papa udah ga ada"

Kabar itu bagaikan petir. Tanganku dingin, gemetar, tangis ku semakin kencang dan terisak-isak. Separuh duniaku benar-benar runtuh.
Orang-orang bingung. Dalam tangis, aku bilang "Calon papa mertua meninggal......kok cepet banget...." Dan aku hanya menangis. Tidak lama, pendeta yang menjadi pembimbing konseling pernikahan kami menelpon di WA group (beliau tau karena sempat kami kabari dimasa-masa kritisnya): "Bagaimana keadaan Bapak?"// Aku yang menjawab "udah ga ada pak....." dan cuma menangis.

Rasanya, seperti dipaksa merelakan pergi sesuatu yang berusaha sekeras tenaga digenggam "Jangan dulu, Tuhan, jangan dulu. Masih banyak tugas Amang ini"

Tapi, ketika aku lihat banyak orang berdatangan...
ketika aku lihat, acara ini justru menguatkan aku,
aku jadi berpikir... memang pastilah Amang lebih memilih disana dibanding di dunia.
toh dia kembali ke rumah pujaan hati nya. 

Meski duniaku runtuh, setidaknya aku tenang didalam hati.




 




Komentar

Postingan Populer