Jurnal 12-08-2022
Agustus seharusnya adalah bulan yang indah, setidaknya bagiku pribadi, tapi tahun ini terasa pahit.
Lima hari setelah kepergian Amang, aku masih belum bisa benar-benar berhenti menangis. Aku sebenarnya sudah jauh-jauh hari mengambil cuti untuk merayakan hari ulang tahunku. Ternyata, aku gunakan untuk seharian merenung-menangis-mencoba mengejar ketertinggalan di pekerjaan- tapi tetap menangis.
Kamis, 11 Agustus 2022
"Aku pengen ziarah, boleh ga? Aku nangis-nangis terus, aku gatahan" kata aku ke Stefan.
"Sama siapa? Harus aku temenin ya... hari minggu kita kesana"
Jumat, 12 Agustus 2022
Seperti biasa, Tepan konsisten untuk melakukan video call pukul 00.00.
"Selamat ulang tahun! Aku ingin... ditahun ini... kamu tetap melihat bahwa ulang tahun kamu itu indah. Dari tiap duka, tiap suka, kamu bisa melihat bahwa inilah penyertaan Tuhan" --- kira-kira begitulah kalimat Tepan dalam menghibur aku. Emanglah, Tepan ini tempat gue bersandar untuk setiap hal apalagi berhubungan dengan emosi. Karena dia sosok yang stabil dan hangat :") Bahkan seminggu itupun...sepertinya lebih banyak Stefan yang menghibur gue :"
"Kamu jangan kirim kue atau apapun ya, aku gamau dirayain"
"Kok gitu? Kamu jangan buat aku tambah sedih. Kabarin ya hari ini kamu dimana, aku mau ketemu" -- jawab Stefan.
Hari itu, tidak ada makan malam di resto yang sudah gue rencanakan. Tidak ada juga pakaian formal nan elegan yang gue kenakan. Kami hanya berjalan kaki ngalur-ngidul mengitari GBK. Inilah momen griefing Stefan. Aku biarkan dia bercerita, mengulang memori tentang papa nya, mengungkapkan seluruh isi hatinya, isi pikirannya, segala sesuatunya tentang papanya. Aku biarkan dia menangis.
Hampir 2.5km kami berjalan, Stefan menutup pembicaraan dengan komitmennya tentang hubungan kami. Kami berdua menangis cukup lama disana....
Minggu, 14 Agustus 2022
Kami memutuskan tetap pergi berziarah. Sesampainya disana, aku langsung terduduk dan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tangis ku pecah...
"Halo Amang, aku sudah pakai cincin dari Stefan. Akhirnya, aku sudah mantapkan hatiku untuk menikah, Amang......."
1,5jam kita duduk disana, berganti-gantian mengungkapkan semua hal, menangis, dan berdoa. Rasanya, hati itu lega sekali... Meskipun aku tau, Amang sudah ga ada disitu, setidaknya aku sudah meluapkan segalanya.
**
Tidak pernah ada dalam pikiranku, Stefan memberikan cincin, menyatakan komitmennya ketika aku berulang tahun sambil berurai air mata. Ada pedih, ada tegar, ada ucapan syukur dalam kalimat-kalimat yang diungkapkan. Tidak pernah juga terlintas, ditempat inilah aku menyatakan kesediaanku...Mungkin momen ini adalah seperti yang tertulis pada lirik lagu:
"sampai kita tua, sampai jadi debu... ku di liang yang satu, kau disebelah ku."
Komentar